BAB 2
PENGENGBANGAN PERANGKAT LUNAK
1.1 Pengantar
Pada
umumnya mahasiswa Teknik Informatika lebih mengutamakan pemrograman, karena
menurut mereka itu adalah sebuah kemampuan inti yang harus di kuasai. Pada
kenyataannya, banyak kemampuan lain yang mungkin selama ini dianggap
sebelah mata justru menjadi penopang dan penentuk proses membangun perangkat
lunak kerja sama dalam tim, kemampuan berkomunikasi, kemampuan membuat
dokumentasi, kemampuan wawancara, kemampuan cepat bidang lain di luar
pemrograman dan sebagainya.
Dalam
rekayasa perangkat lunak umumnya ada beberapa kegiatan yang senantiasa ada pada
model proses apapun : identifikasi kebutuhan, desain, pengkodean, penerapan,
dan pemeliharaan.
Dari
kegiatan-kegiatan yang berurutan tersebut, pengkodean baru dapat dilakukan jika
kebutuhan sudah dikumpulkan dan diketahui lalu di desain. Pengkodean yang
sering menjadi fokus mahasiswa ini tidak berhenti ketika selesai, tapi ada
pemeliharaan yang pasti terkait juga dengan kebutuhan. Kegiatan lain yang
menaungi rekayasa perangkat lunak adalah jaminan mutu perangkat lunak
(SQA~Software Quality Assurance). Pada dasarnya, setiap kegiatan memiliki
standar bagaimana kegiatan tersebut seharusnya dilakukan untuk menghasilkan
produk yang diinginkan.
1. Proses Perangkat Lunak
Sekumpulan aktifitas yang memiliki tujuan untuk pengembangan
ataupun evolusi perangkat lunak, dimana setiap aktifitas bersifat saling
terkait (koheren) untuk menspesifikasikan, merancang, implementasi dan
pengujian sistem perangkat lunak.
2. Pengembangan Perangkat Lunak
Pengembangan perangkat lunak adalah suatu proses dimana kebutuhan
pemakai diterjemahkan menjadi produk perangkat lunak. Proses ini mencakup
aktivitas penerjemahan kebutuhan pemakai menjadi kebutuhan perangkat lunak,
transformasi kebutuhan perangkat lunak menjadi desain, penerapan desain menjadi
kode program, uji coba kode program, dan instalasi serta pemeriksaan
kebenararan perangkat lunak untuk operasional.
3. Model Proses Perangkat Lunak
Model Proses Perangkat Lunak merupakan suatu representasi proses
perangkat lunak yang disederhanakan, dipresentasikan dan perspektif khusus.
Contoh perspektif proses:
- Perspektif Alur-kerja (workflow) - barisan kegiatan
- Perspektif Alur Data (Data flow) - alur informasi
- Perspektif Peran/Aksi – siapa melakukan apa.
A. Model Waterfall
Model
ini adalah model klasik yang mengusung pengembangan perangkat lunak yang
sistematis, berurutan/sekuensial dimulai pada tingkat dan kemajuan system pada
seluruh persyaratan dalam analisis, perancangan (desain), pengkodean, pengujian
(testing), hingga ke tahap pemeliharaan dalam membangun software (perangkat
lunak). Berikut ini gambaran dari Linear Sequential Model / waterfall model.
Langkah-langkah yang harus dilakukan pada metodologi Waterfall
a. Requirement Analysis
Seluruh kebutuhan software harus bisa didapatkan dalam fase ini, termasuk didalamnya kegunaan software yang diharapkan pengguna dan batasan software. Informasi ini biasanya dapat diperoleh melalui wawancara, survey atau diskusi. Informasi tersebut dianalisis untuk mendapatkan dokumentasi kebutuhan pengguna untuk digunakan pada tahap selanjutnya.
Seluruh kebutuhan software harus bisa didapatkan dalam fase ini, termasuk didalamnya kegunaan software yang diharapkan pengguna dan batasan software. Informasi ini biasanya dapat diperoleh melalui wawancara, survey atau diskusi. Informasi tersebut dianalisis untuk mendapatkan dokumentasi kebutuhan pengguna untuk digunakan pada tahap selanjutnya.
b. System Design
Tahap ini dilakukan sebelum melakukan coding. Tahap ini bertujuan untuk memberikan gambaran apa yang seharusnya dikerjakan dan bagaimana tampilannya. Tahap ini membantu dalam menspesifikasikan kebutuhan hardware dan sistem serta mendefinisikan arsitektur sistem secara keseluruhan.
c. Implementation
Dalam tahap ini dilakukan pemrograman. Pembuatan software dipecah menjadi modul-modul kecil yang nantinya akan digabungkan dalam tahap berikutnya. Selain itu dalam tahap ini juga dilakukan pemeriksaaan terhadap modul yang dibuat, apakah sudah memenuhi fungsi yang diinginkan atau belum.
d. Integration & Testing
Di tahap ini dilakukan penggabungan modul-modul yang sudah dibuat dan dilakukan pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah software yang dibuat telah sesuai dengan desainnya dan masih terdapat kesalahan atau tidak.
d. Operation & Maintenance
Ini merupakan tahap terakhir dalam model waterfall. Software yang sudah jadi dijalankan serta dilakukan pemeliharaan. Pemeliharaan termasuk dalam memperbaiki kesalahan yang tidak ditemukan pada langkah sebelumnya. Perbaikan implementasi unit sistem dan peningkatan jasa sistem sebagai kebutuhan baru.
Kelebihan metode ini antara lain mudah diaplikasikan karena
urutan-urutan pengerjaan sudah sering dipakai; selain itu juga cocok untuk
software berskala besar dan yang bersifat umum; yang paling penting, karena
langkah-langkahnya sangat sekuensial, pengerjaan proyek akan mudah dikontrol
dan terjadwal dengan baik.
Namun, terdapat pula beberapa kelemahan, seperti kurang fleksibel, dikarenakan rincian
prosesnya harus benar-benar jelas dan tidak boleh diubah-ubah. Apabila
dikerjakan dengan melampaui tahap yang seharusnya maka proses desain yang
sebelumnya itu akan berubah total dan memakan waktu yang banyak jika harus
mengulang proses.
B. Model Prototype
Metode
ini menyajikan gambaran yang lengkap dari sistem, terdiri atas model kertas,
model kerja dan program. Pihak pengembang akan melakukan identifikasi kebutuhan
pemakai, menganalisa sistem dan melakukan studi kelayakan serta studi terhadap
kebutuhan pemakai, meliputi model interface, teknik prosedural dan teknologi
yang akan dimanfaatkan.
Secara
ringkas, tahapan-tahapan dalam model prototyping adalah:
Tahap Pengumpulan kebutuhan: pada tahap ini, pelanggan dan pengembang saling bantu dalam mendefinisikan format seluruh perangkat lunak, menentukan keperluan dan garis besar sistem yang akan dirancang.
Tahap Pengumpulan kebutuhan: pada tahap ini, pelanggan dan pengembang saling bantu dalam mendefinisikan format seluruh perangkat lunak, menentukan keperluan dan garis besar sistem yang akan dirancang.
Tahap Quick design:
membangun rancangan global sebagai contoh bagi user
Tahap Pembangunan Prototipe: proses perancangan sementara yang fokusnya kepada penyajian
kepada pelanggan, termasuk pengujian dan penyempurnaan.
Tahap Evaluasi Pelanggan: di mana pelanggan melakukan pengujian terhadap prototipe
yang ada dan pengembang memperhalus analisis kebutuhan pemakai.
Tahap Pembuatan dan Implementasi: tahap ini termasuk proses desain (rancang), pengkodean dan
testing.
Keunggulan model ini adalah
sifatnya yang sangat interaktif sehingga pengembang dan pengguna (pemakai)
dapat terus berinteraksi selama pengerjaan tahapan-tahapan tersebut. Peran aktif pemakai ini dapat menghemat waktu
dalam pengembangan sistem dan bila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian
keinginan, pemakai dapat segera memberitahukannya sehingga pengembang dapat
secepatnya melakukan penyesuaian.
Kelemahan model
ini antara lain, akibat adanya quick design, kadang pemakai tidak
menyadari bahwa perangkat lunak yang ditunjukkan masih berupa blue print
sehingga tidak ada jaminan terhadap kualitas secara keseluruhan dan
pemeliharaan jangka panjangnya. Dari sisi pengembang, karena ingin menyegerakan
selesainya proyek, sering menggunakan bahasa pemrograman yang sederhana dalam
membuat prototipe tanpa memikirkan lebih lanjut program yang lebih kompleks
untuk membangun sistem yang sebenarnya.
C. Model RAD (Rapid Aplication
Development)
RAD
adalah proses pembangunan Perangkat Lunak yang menekankan pada siklus
pengembangan yang pendek dan singkat. Model ini menggabungkan model waterfall
dan model component based construction.
Secara
ringkas, tahapan-tahapan RAD adalah sebagai berikut.
Tahap Pemodelan Bisnis: dibuat agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
informasi apa yang mengontrol proses bisnis? Informasi apa yang didapat? Siapa
yang mendapatkannya? Untuk siapa informasi itu ditujukan? Siapa yang akan
memprosesnya?
Tahap Pemodelan Data:
informasi-informasi yang dipadu dari pemodelan bisnis dipilah-pilah ke menjadi
sekumpulan objek data yang masing-masing objek diidentifikasikan dan ditentukan
hubungan antara objek-objek tersebut.
Tahap Pemodelan Proses: aliran informasi yang didapat dalam proses pemodelan data
diolah sedemikian untuk dapat menopang fungsi-fungsi bisnis. Prosesnya
dikreasikan untuk menambah, memodifikasi, menghapus dan atau mendapatkan
kembali sebuah objek data.
Tahap Pembuatan Aplikasi: RAD dapat saja memakai kembali komponen program yang sudah
ada bila dimungkinkan, atau membuat komponen yang dapat digunakan lagi bila
diperlukan di masa mendatang. RAD juga diasumsikan menggunakan teknik generasi
keempat (4GT).
Tahap Pengujian dan Pergantian: Proses RAD menekankan pada pemakaian kembali yang
memungkinkan berkurangnya keseluruhan waktu pengujian, namun komponen harus
diuji dan harus dilatih secara penuh dan terintegrasi.
Kelebihan model RAD:
tahap-tahap RAD membuatnya mampu untuk menggunakan kembali komponen yang ada
(reusable object), karena setiap komponen software dikerjakan secara terpisah
dengan tim-tim tersendiri sehingga dapat digunakan juga untuk aplikasi lain
yang pada akhirnya akan menghemat waktu. Penggunaan tim yang terpisah
untuk mengerjakan pekerjaan yang berbeda membuat pekerjaan lebih cepat dalam
proses integrasi dan efisien terhadap waktu tanpa mengacaukan aplikasi.
Kelemahan model RAD: Tidak
begitu cocok untuk proyek dengan skala besar karena dibutuhkan sumber daya
manusia yang semakin banyak seiring dengan semakin banyaknya komponen yang
dikerjakan, selain itu, semakin besar proyek, semakin kompleks pula koordinasi
yang dibutuhkan. Dalam waktu yang singkat, rasanya sulit untuk pengembang
dan pemakai berkomitmen untuk melaksanakan berbagai kegiatan untuk melengkapi
sistem. Apalagi bila sistem ternyata tidak dapat dimodularisasi sementara
sistem mempunyai resiko teknik yang tinggi.
4. Model Proses Perangkat Lunak
Evolusioner
Ada 2 jenis pengembangan evolusioner :
1. Pengembangan Eksplotari = Tujuan proses ini adalah bekerja dengan pelanggan untuk menyelidiki persyaratan mereka dan mengirimkan sistem akhir. Harusnya diawali dengan kebutuhan yang sudah dimengerti.
2. Prototipe yang dapat dibuang (throw-away) = Berkonsentrasi pada eksperimen, dengan persyaratan pelanggan yang tidak dipahami dengan baik.
1. Pengembangan Eksplotari = Tujuan proses ini adalah bekerja dengan pelanggan untuk menyelidiki persyaratan mereka dan mengirimkan sistem akhir. Harusnya diawali dengan kebutuhan yang sudah dimengerti.
2. Prototipe yang dapat dibuang (throw-away) = Berkonsentrasi pada eksperimen, dengan persyaratan pelanggan yang tidak dipahami dengan baik.
Kelebihan Model Pengembangan Evolusioner :
- Lebih efektif dari pendekatan air terjun dalam menghasilkan sistem yang memenuhi kebutuhan langsung dari pelanggan.
- Sementara user mendapat pemahaman yang lebih baik dari masalah mereka, sistem perangkat lunak dapat merefleksikannya.
Kelemahan Model Pengembangan Evolusioner
:
- Kurangnya visibilitas proses dan jika sistem dikembangkan dengan cepat, tidaklah efektif dari segi biaya jika dihasilkan dokumen yang merefleksikan setiap versi sistem.
- Sistem seringkali memiliki struktur yang buruk dan Perubahan yang terus-menerus cenderung merusak struktur perangkat lunak. Penyesuaian perubahan menjadi kian sulit dan mahal.
- Membutuhkan kemampuan khusus.
A. Model Incremental
Model ini merupakan hasil kombinasi elemen-elemen dari model
waterfall yang diaplikasikan secara berulang. Elemen-elemen tersebut dikerjakan
hingga menghasilkan produk dengan spesifikasi tertentu kemudian proses dimulai
dari awal kembali hingga muncul hasil yang spesifikasinya lebih lengkap dari
sebelumnya dan tentunya memenuhi kebutuhan pemakai.
Kelebihan model ini
adalah mampu mengakomodasi perubahan secara fleksibel, dengan waktu yang
relatif singkat dan tidak dibutuhkan anggota/tim yang banyak untuk
menjalankannya.
Kekurangannya
adalah tidak cocok untuk proyek berukuran besar (lebih dari 200.000 baris
coding) dan sulit untuk memetakan kebutuhan pemakai ke dalam rencana
spesifikasi tiap-tiap hasil dari increament.
B. Model Spiral
- Model ini mengadaptasi dua model perangkat lunak yang ada yaitu model prototyping dengan pengulangannya dan model waterfall dengan pengendalian dan sistematikanya. Model ini dikenal dengan sebutan Spiral Boehm. Pengembang dalam model ini memadupadankan beberapa model umum tersebut untuk menghasilkan produk khusus atau untuk menjawab persoalan-persoalan tertentu selama proses pengerjaan proyek.
Tahap-tahap
model ini dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut.
Tahap Liason:
pada tahap ini dibangun komunikasi yang baik dengan calon pengguna/pemakai
Tahap Planning (perencanaan): pada tahap ini ditentukan sumber-sumber informasi, batas
waktu dan informasi-informasi yang dapat menjelaskan proyek.
Tahap Analisis Resiko:
mendefinisikan resiko, menentukan apa saja yang menjadi resiko baik teknis
maupun manajemen.
Tahap Rekayasa (engineering): pembuatan prototipe
Tahap Konstruksi dan Pelepasan (release): pada tahap ini dilakukan pembangunan perangkat lunak yang
dimaksud, diuji, diinstal dan diberikan sokongan-sokongan tambahan untuk
keberhasilan proyek.
Tahap Evaluasi:
Pelanggan/pemakai/pengguna biasanya memberikan masukan berdasarkan hasil yang
didapat dari tahap engineering dan instalasi.
Kelebihan model ini
adalah sangat mempertimbangkan resiko kemungkinan munculnya kesalahan sehingga
sangat dapat diandalkan untuk pengembangan perangkat lunak skala besar. Pendekatan
model ini dilakukan melalui tahapan-tahapan yang sangat baik dengan
menggabungkan model waterfall ditambah dengan pengulangan-pengulangan sehingga
lebih realistis untuk mencerminkan keadaan sebenarnya. Baik pengembang maupun
pemakai dapat cepat mengetahui letak kekurangan dan kesalahan dari sistem
karena proses-prosesnya dapat diamati dengan baik.
Kekurangan model ini
adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan perangkat lunak cukup panjang
demikian juga biaya yang besar. Selain itu, sangat tergantung kepada tenaga
ahli yang dapat memperkirakan resiko. Terdapat pula kesulitan untuk mengontrol
proses. Sampai saat ini, karena masih relatif baru, belum ada bukti apakah
metode ini cukup handal untuk diterapkan.
C. Model Rakitan Komponen
Model ini menggabungkan beberapa karakteristik model spiral.
Tetapi model ini, merangkai aplikasi dari komponen perangkat lunak sebelum
dipaketkan (kadang disebut kelas). Aktivitas pengembangan perangkat lunak
dimulai dengan identifikasi calon kelas. Dipenuhi dengan mengamati data
yang akan dimanipulasi oleh aplikasi dan algoritma-algoritma yang akan
diaplikasikan. Data dan algoritma yang berhubungan dikemas ke dalam kelas.
Kelas-kelas tersebut disimpan dalam class library (tempat penyimpanan).
Tahapan-tahapan
Model ini adalah:
Tahap
Identifikasi calon-calon komponen (kelas objek); Tahap melihat
komponen-komponen dalam pustaka; Tahap mengekstrak komponen jika ada; Tahap
membangun komponen jika tidak ada; Tahap menyimpan komponen baru pada pustaka;
Tahap mengkonstruksi iterasi ke-n dari sistem.
Kelebihan model ini
adalah tinggal mencaplok atau menggunakan program atau komponen yang sudah ada
dan menyusunnya menjadi sebuah program yang lebih kompleks dan berkembang
sesuai dengan kebutuhan user/pengguna sehingga dapat mengefisienkan penggunaan
waktu dan tenaga. Selain itu, model ini juga menyediakan kemampuan untuk
memvisualisasikan hasil rakitan dengan kesanggupan untuk mengukur, menganalisa,
merancang dan merancang ulang program.
Kekurangan model ini
adalah seringnya program atau komponen-komponen terdahulu tidak kompatibel atau
sejalan dengan model perakitan komponen ini sehingga untuk perusahaan berskala
kecil akan kesulitan menemukan komponen yang sesuai untuk dirakit.
Model ini sangat sesuai digunakan oleh perusahaan besar yang sudah berpengalaman
mengembangkan software. Mereka dapat memanfaatkan software-software yang telah
umum dikembangkan sebelumnya menjadi bentuk baru dari software yang ingin
dikomersilkan.
D. Model Konkuren
Representasi aktivitas dalam metode pengembangan perangkat lunak
ini meliputi aktivitas analisis, bisa berada dalam salah satu dari
keadaan-keadaan yang dicatat pada saat tertentu. Dengan cara yang sama, aktivitas
yang lain (desain atau komunikasi pelanggan) dapat direpresentasikan dalam
sebuah sikap yang analog. Semua aktifitas ada secara konkruen tetapi dia
tinggal didalam keadaan yang berbeda. Model ini sering digunakan sebagai
paradigma bagi pengembangan aplikasi klien/server.
Kenyataanya model proses konkruen bisa diaplikasikan ke dalam
semua tipe metode pengembangan perangkat lunak, dan memberikan gambaran akurat
mengenai keadaan tertentu dari sebuah proyek. Selain membatasi aktivitas
perekayasa ke dalam sederetan kejadian, model proses juga mendefinisikan
jaringan aktivitas.
Model Konkuren cocok digunakan untuk pengembangan aplikasi client/server yang
terdiri atas satu set komponen yang fungsional. Terdapat dua dimensi aktivitas yang
digambarkan oleh model ini sebagai berikut.
Dimensi sistem:
terdapat tiga proses di dalamnya yakni perancangan, perakitan (assembly) dan
penggunaan (use).
Dimensi komponen:
terdapat dua kegiatan utama yaitu perancangan dan realisasi.
Concurrency
(pertemuan) dapat diperoleh dengan dua cara:
1)
sistem dan komponen kegiatan (aktifitas) terjadi secara simultan dan dapat
diperagakan dengan memanfaatkan pendekatan yang berdasar pada status
sebelumnya.
2)
aplikasi client/server yang bersifat unik/khas di mana dapat diterapkan pada
banyak komponen yang tiap-tiap komponen bisa dirancang dan direalisasikan
secara serentak.
Latihan Soal
1.
Ada beberapa model proses yang dapat digunakan untuk mengembangkan perangkat
lunak. Jelaskan apa yang dimaksud dengan model-model proses berikut:
a.
Waterfall
b.
Prototyping
c.
RAD
d.
Incremental
e.
Spiral
2.
Pada saat atau kondisi yang bagaimana masing-masing pendekatan tersebut
digunakan untuk menyelesaikan pengembangan perangkat lunak? Berilah contoh
untuk melengkapi jawaban anda!
Jawaban!
1)
a) Waterfall adalah suatu metodologi pengembangan perangkat
lunak yang mengusulkan pendekatan kepada perangkat lunak sistematik dan
sekuensial yang mulai pada tingkat kemajuan sistem pada seluruh analisis,
design, kode, pengujian dan pemeliharaan.
b) Prototype adalah model atau simulasi dari semua aspek produk
sesungguhnya yang akan dikembangkan, model ini harus bersifat representative
dari produk akhirnya.
c)
RAD (Rapid Application Development)
adalah sistem pemrograman yang memungkinkan programmer membuat program dengan
cepat. Secara umum, Sistem RAD menyediakan sejumlah alat-bantu untuk membuat
antarmuka pengguna grafis (graphical user interfaces) yang biasanya membutuhkan
usaha dan waktu yang lama untuk membuatnya.
d) Icremental adalah penggabungan elemen-elemen model
sekuensial linier (diaplikasikan secara berulang) dengan filosofi prototype
iterative.
e) Spiral adalah model proses perangkat lunak yang memadukan
wujud pengulangan dari model prototyping dengan aspek pengendalian dan
sistematika dari linear sequential model. Dalam model ini perangkat lunak
dikembangkan dalam suatu seri incremental release.
2)
a) Model Waterfall ini sangat sesuai digunakan dalam
pengembangan sistem perangkat lunak dan hardware yang luas dan apabila
kebutuhan pengguna telah dimengerti dengan baik. Selain itu, juga apabila waktu
yang tersedia juga masih cukup banyak.
b) Model Prototyping ini sangat sesuai diterapkan untuk kondisi yang beresiko tinggi di
mana masalah-masalah tidak terstruktur dengan baik, terdapat fluktuasi
kebutuhan pemakai yang berubah dari waktu ke waktu atau yang tidak terduga,
bila interaksi dengan pemakai menjadi syarat mutlak dan waktu yang tersedia
sangat terbatas sehingga butuh penyelesaian yang segera. Model ini juga dapat
berjalan dengan maksimal pada situasi di mana sistem yang diharapkan adalah
yang inovatif dan mutakhir sementara tahap penggunaan sistemnya relatif
singkat.
c)
Model RAD sangat tepat diterapkan
untuk sistem yang telah jelas dan lengkap kebutuhannya, di mana terdapat
komponen-komponen yang dapat dipakai kembali dalam proyek yang berskala kecil
dengan waktu pengembangan perangkat lunak yang singkat.
d) Model Incremental cocok dipakai untuk proyek kecil dengan
anggota tim yang sedikit dan ketersediaan waktu yang terbatas.
e) Model Spiral sangat cocok diterapkan untuk pengembangan
sistem dan perangkat lunak skala besar di mana pengembang dan pemakai dapat
lebih mudah memahami kondisi pada setiap tahapan dan bereaksi terhadap
kemungkinan terjadinya kesalahan. Selain itu, diharapkan juga waktu dan dana
yang tersedia cukup memadai.
Nama Klompok :
Bagus
Rizky Hermawan (17120012)
Ivan
Khabibu Rochman (17120004)
Mohammad
Agus S (17120023)
Suber Referensi
http://darmon0.blogspot.com/2013/12/model-waterfall.html
http://raytenimanuel.wordpress.com/2013/01/23/pengertian-waterfall/
http://hansiaditya.wordpress.com/2007/09/25/waterfall-process-model/
http://saluky.blogspot.com/2013/03/pengertian-prototype.html
http://hellisfun.wordpress.com/imk/apakah-perlu-menggunakan-protoype/
http://yuliagroups.wordpress.com/pengertian-rad/
http://rapidapplicationdevelopmentrad.blogspot.com/
http://opoweb.blogspot.com/2010/02/pengembangan-evolusioner.html
http://kuliahku-kampusku.blogspot.com/2013/05/metode-pengembangan-perangkat-lunak_21.html
http://roysarimilda.wordpress.com/2012/05/08/macam-macam-model-proses-rpl-dan-penyelesaian-kasus/
http://raytenimanuel.wordpress.com/2013/01/23/pengertian-waterfall/
http://hansiaditya.wordpress.com/2007/09/25/waterfall-process-model/
http://saluky.blogspot.com/2013/03/pengertian-prototype.html
http://hellisfun.wordpress.com/imk/apakah-perlu-menggunakan-protoype/
http://yuliagroups.wordpress.com/pengertian-rad/
http://rapidapplicationdevelopmentrad.blogspot.com/
http://opoweb.blogspot.com/2010/02/pengembangan-evolusioner.html
http://kuliahku-kampusku.blogspot.com/2013/05/metode-pengembangan-perangkat-lunak_21.html
http://roysarimilda.wordpress.com/2012/05/08/macam-macam-model-proses-rpl-dan-penyelesaian-kasus/







Comments
Post a Comment